Di zaman yang serba modern ini, hampir tidak ada yang tidak mengenal televisi, berikut dengan tayangan-tayangan yang disajikan. Kotak ajaib itu membius manusia dimanapun berada. Kotak ajaib itu pun sanggup mengubah pola relasi yang terjadi antara anggota kelompok masyarakat, bahkan dalam rumah tangga sekalipun. Pernahkah kita melihat seorang ibu rumah tangga menangis, bahkan tertawa terbahak-bahak sendiri di depan layar televisi? Atau apa yang sedang terjadi ketika semua anggota keluarga duduk sopan denga mata menatap lurus ke arah televisi di ruang keluarga tanpa berkomunikasi satu sama lain? fenomena apakah ini? mungkin bukanlah hal yang baru, bahkan kita semua pernah mengalami hal yang demikian. Seberapa kuat sihir yang dihasilkan oleh kotak ajaib bernama televisi hingga mampu mengubah pola relasi dalam lingkungan masyarakat, hingga dalam konteks yang paling sederhana sekalipun, yaitu dalam lingkungan keluarga. Jawaban dari pertanyaan tersebut akan berkaitan dengan dua entitas yaitu, media massa dan globalisasi.
Seperti yang secara umum telah diketahui, dunia pada saat ini telah memasuki era komunikasi dan transformasi global, meminjam istilah dari Marshall McLuhan, era komunikasi pada saat ini telah membuat dunia menjadi semacam “Desa Global” (Global Village), yang dimana sudah tidak adalagi batasan-batasan yang memisahkan antara orang yang berada di negara satu untuk berkomunikasi dengan orang yang berada di negara lain.
Televisi memang merupakan media massa yang paling banyak digemari dan paling populer, alasannya pun beragam jika orang ditanya mengapa anda menonton televisi, ada yang menjawab “karena acaranya mengasyikkan”,”sebagai sarana refreshing”, “menghabiskan waktu”, “menambah pengetahuan”, dan beberapa alasan lainnya. Yang jelas semua media massa, khususnya televisi memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat. Kehadiran televisi dengan berbagai macam sihir yang diberikan kepada audience ditakutkan, audiens akan kehilangan daya kritis. Apa yang membuat media massa mampu membuat daya kritis masyarakat semakin hilang sehingga individu dengan mudahnya mampu dikuasai oleh media massa? Satu jawaban yang pasti adalah, kebutuhan akan informasi tiap individu. Kebuituhan akan informasi merupakan kebutuhan yang mendasar bagi setiap individu, manusia tidak akan bisa hidup dalam keadaan tanpa informasi, karena manusia memiliki rasa ingin tahu yang merupakan ciri mendasar manusia. Media massa, khususnya televisi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia di masa sekarang, bahkan media telah mampu mengubah pola hubungan antara masyarakat, jika dahulu pola penyebaran informasi masih membutuhkan figur perantara dalam hal ini masih membutuhkan para figur-figur di dalam masyarakat atau para pemimpin, kini peran tersebut telah diambil alih oleh televisi, hampir semua orang dapat mengetahui informasi dunia luar hanya dengan menonton televisi.
Seperti yang secara umum telah diketahui, dunia pada saat ini telah memasuki era komunikasi dan transformasi global, meminjam istilah dari Marshall McLuhan, era komunikasi pada saat ini telah membuat dunia menjadi semacam “Desa Global” (Global Village), yang dimana sudah tidak adalagi batasan-batasan yang memisahkan antara orang yang berada di negara satu untuk berkomunikasi dengan orang yang berada di negara lain.
Televisi memang merupakan media massa yang paling banyak digemari dan paling populer, alasannya pun beragam jika orang ditanya mengapa anda menonton televisi, ada yang menjawab “karena acaranya mengasyikkan”,”sebagai sarana refreshing”, “menghabiskan waktu”, “menambah pengetahuan”, dan beberapa alasan lainnya. Yang jelas semua media massa, khususnya televisi memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat. Kehadiran televisi dengan berbagai macam sihir yang diberikan kepada audience ditakutkan, audiens akan kehilangan daya kritis. Apa yang membuat media massa mampu membuat daya kritis masyarakat semakin hilang sehingga individu dengan mudahnya mampu dikuasai oleh media massa? Satu jawaban yang pasti adalah, kebutuhan akan informasi tiap individu. Kebuituhan akan informasi merupakan kebutuhan yang mendasar bagi setiap individu, manusia tidak akan bisa hidup dalam keadaan tanpa informasi, karena manusia memiliki rasa ingin tahu yang merupakan ciri mendasar manusia. Media massa, khususnya televisi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia di masa sekarang, bahkan media telah mampu mengubah pola hubungan antara masyarakat, jika dahulu pola penyebaran informasi masih membutuhkan figur perantara dalam hal ini masih membutuhkan para figur-figur di dalam masyarakat atau para pemimpin, kini peran tersebut telah diambil alih oleh televisi, hampir semua orang dapat mengetahui informasi dunia luar hanya dengan menonton televisi.
Hiperrealitas Dalam Media Massa
Hiperrealitas menurut Jean Baudrillard, adalah suatu realitas buatan yang meniru satu realitas tertentu, tapi karena proses pemanipulasian, maka realitas buatan itu terputus hubungannya dengan realitas aslinya. Hiperrealitas terjadi akibat peran media massa, dalam hal ini televisi yang sangat begitu besar. Media massa dewasa ini tidak lagi menjadi penyebar realitas, tetapi sudah berubah menjadi penyebar hiperrealitas. Media massa sudah mengabaikan salah satu tujuan pokoknya yaitu to inform, karena apa yang di tayangkan oleh televisi merupakan realitas semu. Sebagai penonton kita tidak mendapatkan atau melihat apa-apa dan apa yang disajikan oleh suatu layar televisi, yang kita tonton hanyalah sebuah kehampaan. Apa yang ditayangkan oleh media massa saat ini hanya sebuah citra-citraan yang secara silih berganti dengan tenggang waktu yang sangat singkat. Dengan metode seperti ini media massa mampu menayangkan banyak sekali gambar dengan keanekaragamannya, yang dipentingkan dari metode seperti ini kiranya hanyalah efek kecepatan pergantian tayangan itu sendiri, bukan substansi atau isi tayangannya.
Dalam dunia hiperrealitas, massa (red: masyarakat) lebih mempercayai realitas buatan daripada realitas yang aslinya. Massa terpesona dengan perputaran penampakan yang muncul dan kembali hilang. Massa hidup dalam persimpangan yang tidak menentu arahnya, antara yang riil dan yang fantasi belaka. Televisi membawa penontonnya seakan-akan berada langsung di dalam struktur atau mengalami langsung realitas asli yang representasinya ada dalam tayangan televisi. Akibatnya realitas yang ditayangkan oleh televisi seakan-akan menjadi hiperreal.
Apa yang menjadi kekhawatiran dengan adanya hiperrealitas, adalah media massa (televisi) kini membawa realitas asli menuju “kematiannya”. Hal ini dikarenakan apa yang ditampilkan oleh televisi, dibuat seideal mungkin bahkan boleh dikatakan lebih riil daripada realitas yang asli. Realitas asli telah mati dalam hiperrealitas yang ditayangkan ke hadapan penonton setiap saat.
Bahaya dari hiperrealitas dalam media massa adalah hancurnya sosialitas dari setiap warga. Masyarakat kini terpisah satu sama lain, sibuk mengunyah hiperrealitas yang ditayangkan televisi tanpa peduli sesama. Realitas sosial, dalam pengertian masyarakat menjadi hilang. Sosialitas setiap individu menjadi hancur, individu masuk dalam budaya massa.
Dalam dunia hiperrealitas, massa (red: masyarakat) lebih mempercayai realitas buatan daripada realitas yang aslinya. Massa terpesona dengan perputaran penampakan yang muncul dan kembali hilang. Massa hidup dalam persimpangan yang tidak menentu arahnya, antara yang riil dan yang fantasi belaka. Televisi membawa penontonnya seakan-akan berada langsung di dalam struktur atau mengalami langsung realitas asli yang representasinya ada dalam tayangan televisi. Akibatnya realitas yang ditayangkan oleh televisi seakan-akan menjadi hiperreal.
Apa yang menjadi kekhawatiran dengan adanya hiperrealitas, adalah media massa (televisi) kini membawa realitas asli menuju “kematiannya”. Hal ini dikarenakan apa yang ditampilkan oleh televisi, dibuat seideal mungkin bahkan boleh dikatakan lebih riil daripada realitas yang asli. Realitas asli telah mati dalam hiperrealitas yang ditayangkan ke hadapan penonton setiap saat.
Bahaya dari hiperrealitas dalam media massa adalah hancurnya sosialitas dari setiap warga. Masyarakat kini terpisah satu sama lain, sibuk mengunyah hiperrealitas yang ditayangkan televisi tanpa peduli sesama. Realitas sosial, dalam pengertian masyarakat menjadi hilang. Sosialitas setiap individu menjadi hancur, individu masuk dalam budaya massa.
Hiperrealitas dan Hubungannya dengan Kapitalisme Global
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya jika media massa dan globalisasi merupakan dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Globalisasi secara sederhana bisa diartikan sebagai akumulasi antara internasionalisasi (penyebaran paham-paham global ke seluruh dunia atau masuknya dimensi global dalam setiap masalah). Dalam globalisasi semua menjadi transparan sehingga pola hubungan manusia menjadi semakin luas.
Kapitalisme global sebagai bagian integral dari globalisasi bisa dengan cepat mencapai puncak atau titik finalnya karena di dalam diri kapitalisme ada daya gerak atau pembangkit yang selalu bekerja menghasilkan perubahan yang konstan dengan tujuan yang jelas. George Soros, seorang pelaku utama dari kapitalisme global bahkan menyorot secara tajam ketimpangan dan bahaya yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme global yang ternyata tidak sejalan dengan pembangunan masyarakat global. Salah satu teori klasik yang dapat menjelaskan ketimpangan ini adalah teori dependensia atau ketergantungan yang pertama kali dicetuskan oleh lenin dalam pamfletnya, Imperialism. The Highest Stage of Capitalism (1914). Lenin menyatakan bahwa kapitalisme eropa dapat berkembang karena ekspor eksploitasi yang dilakukannya di negara-negara jajahan dan penyerapan “modal surplus” eropa oleh para pekerja pribumi dan bahan-bahan mentah pribumi. Lenin kemudian menyatakan hal ini menghasilkan perang antara negara-negara utara yang maju dan “proletariat global” di negara-negara berkembang. Ketimpangan utara-selatan ini mendapat penjelasan yang paling masuk akal dari teori dependensia yang kemudian dikemukanan oleh ekonom argentian, Raul presbich, yang menyatakan bahwa kemiskinan di Dunia ketiga lebih disebabkan karena pengaruh tatanan ekonomi kapitalis global, yang membutuhkan jasa negara-negara berkembang agar terus-menerus berada dalam kondisi “berkembang dan bergantung”. Dengan kata lain ia menyatakan bahwa kemakmuran di utara secara langsung disebabkan karena kemiskinan di selatan.
Media massa berkembang sangat pesat di era globalisasi saat ini. Media massa tak bisa dilepaskan dari perkembangan kapitalisme global, yang dimana media massa berkembang sejalan dengan kapitalisme global. Keduanya mempunyai hubungan unik, yakni saling memengaruhi dan saling mendukung. Media massa tidak akan menjadi sepeti sekarang kalau tidak didukung dengan ekspansi modal tidak akan menjadi sepeti sekarang kalau tidak didukung dengan ekspansi modal yang kuat, dan sebaliknya, kapitalisme tidak akan bisa menjadi global tanpa dukungan penyebaran ide-ide globalisasi ke seluruh penjuru dunia melalui media massa. Dalam hal ini, yang paling berpengaruh dari media massa adalah iklan yang ditayangkan, tidak bisa dipungkiri jika iklan merupakan sumber pemasukan terbesar dari media massa, dan ini pula yang menjadi langkah awal dari kapitalisme untuk menggunakan media massa dalam penyebaran paham kapitalis. Iklan dalam media massa telah sangat membantu mengarahkan gaya hidup masyarakat agar sesuai dengan kepentingan pasar kapitalisme, yakni hidup konsumerisme
Di dalam iklan inilah proses hiperrealitas juga terjadi, yang dimana apa yang diiklankan oleh televisi, merupakan realitas buatan yang bisa mengalahkan realitas yang asli, hal ini dilakukan untuk menarik minat audiens untuk mengonsumsi apa yang diiklankan oleh media massa. Produsen memiliki otoritas penuh untuk mendesain produk iklan yang diminati masyarakat, bahkan iklan yang dibuat oleh produsen merupakan hal yang mustahil terjadi di dunia nyata, karena apa yang menjadi orientasi dari produsen adalah membuat masyarakat menjadi masyarakat yang konsumtif. Masyarakat seolah dipaksa untuk mengonsumsi apa yang diiklankan oleh produsen dengan menggunakan teknik advertising yang didalamnya terkandung nilai-nilai hiperrealitas. Media massa memproduksi dan menyebarkan dunia konsumerisme yang penuh dengan eksotisme, keindahan dan kehidupan yang harmonis dan sejahtera, dengan kata lain media massa mendramatisasi kenyataan. Segala realitas, oleh media massa dibuat menjadi realitas yang indah. Realitas yang indah ini pada gilirannya akan menciptakan keterpesonaan tersendiri pada manusia yang pada akhirnya akan menghilangkan daya kritis dan inovasi pada manusia.
Kapitalisme global sebagai bagian integral dari globalisasi bisa dengan cepat mencapai puncak atau titik finalnya karena di dalam diri kapitalisme ada daya gerak atau pembangkit yang selalu bekerja menghasilkan perubahan yang konstan dengan tujuan yang jelas. George Soros, seorang pelaku utama dari kapitalisme global bahkan menyorot secara tajam ketimpangan dan bahaya yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme global yang ternyata tidak sejalan dengan pembangunan masyarakat global. Salah satu teori klasik yang dapat menjelaskan ketimpangan ini adalah teori dependensia atau ketergantungan yang pertama kali dicetuskan oleh lenin dalam pamfletnya, Imperialism. The Highest Stage of Capitalism (1914). Lenin menyatakan bahwa kapitalisme eropa dapat berkembang karena ekspor eksploitasi yang dilakukannya di negara-negara jajahan dan penyerapan “modal surplus” eropa oleh para pekerja pribumi dan bahan-bahan mentah pribumi. Lenin kemudian menyatakan hal ini menghasilkan perang antara negara-negara utara yang maju dan “proletariat global” di negara-negara berkembang. Ketimpangan utara-selatan ini mendapat penjelasan yang paling masuk akal dari teori dependensia yang kemudian dikemukanan oleh ekonom argentian, Raul presbich, yang menyatakan bahwa kemiskinan di Dunia ketiga lebih disebabkan karena pengaruh tatanan ekonomi kapitalis global, yang membutuhkan jasa negara-negara berkembang agar terus-menerus berada dalam kondisi “berkembang dan bergantung”. Dengan kata lain ia menyatakan bahwa kemakmuran di utara secara langsung disebabkan karena kemiskinan di selatan.
Media massa berkembang sangat pesat di era globalisasi saat ini. Media massa tak bisa dilepaskan dari perkembangan kapitalisme global, yang dimana media massa berkembang sejalan dengan kapitalisme global. Keduanya mempunyai hubungan unik, yakni saling memengaruhi dan saling mendukung. Media massa tidak akan menjadi sepeti sekarang kalau tidak didukung dengan ekspansi modal tidak akan menjadi sepeti sekarang kalau tidak didukung dengan ekspansi modal yang kuat, dan sebaliknya, kapitalisme tidak akan bisa menjadi global tanpa dukungan penyebaran ide-ide globalisasi ke seluruh penjuru dunia melalui media massa. Dalam hal ini, yang paling berpengaruh dari media massa adalah iklan yang ditayangkan, tidak bisa dipungkiri jika iklan merupakan sumber pemasukan terbesar dari media massa, dan ini pula yang menjadi langkah awal dari kapitalisme untuk menggunakan media massa dalam penyebaran paham kapitalis. Iklan dalam media massa telah sangat membantu mengarahkan gaya hidup masyarakat agar sesuai dengan kepentingan pasar kapitalisme, yakni hidup konsumerisme
Di dalam iklan inilah proses hiperrealitas juga terjadi, yang dimana apa yang diiklankan oleh televisi, merupakan realitas buatan yang bisa mengalahkan realitas yang asli, hal ini dilakukan untuk menarik minat audiens untuk mengonsumsi apa yang diiklankan oleh media massa. Produsen memiliki otoritas penuh untuk mendesain produk iklan yang diminati masyarakat, bahkan iklan yang dibuat oleh produsen merupakan hal yang mustahil terjadi di dunia nyata, karena apa yang menjadi orientasi dari produsen adalah membuat masyarakat menjadi masyarakat yang konsumtif. Masyarakat seolah dipaksa untuk mengonsumsi apa yang diiklankan oleh produsen dengan menggunakan teknik advertising yang didalamnya terkandung nilai-nilai hiperrealitas. Media massa memproduksi dan menyebarkan dunia konsumerisme yang penuh dengan eksotisme, keindahan dan kehidupan yang harmonis dan sejahtera, dengan kata lain media massa mendramatisasi kenyataan. Segala realitas, oleh media massa dibuat menjadi realitas yang indah. Realitas yang indah ini pada gilirannya akan menciptakan keterpesonaan tersendiri pada manusia yang pada akhirnya akan menghilangkan daya kritis dan inovasi pada manusia.
Epilog
Media massa memang tidak bisa dilepaskan dari cengkraman kapitalisme, karena kedua hal ini merupakan dua mata rantai yang saling berhubungan satu sama lain. Media massa tidak akan bisa hidup tanpa adanya dukungan dari sistem kapitalisme, begitupun sebaliknya kapitalisme tidak akan bisa menyebarkan ideologi maupun paham kapitalis tanpa adanya dukungan dari media massa dalam menyebarkan informasi ke seluruh pelosok dunia. Lantas yang menjadi pertanyaan apakah kita harus menjadi orang yang anti media massa untuk terhindar dari paham kapitalis? Media massa sudah menjadi kebutuhan primer bagi tiap-tiap individudi era informasi ini, karena kebutuhan akan informasi merupakan kebutuhan paling mendasar bagi manusia. Olehnya itu diperlukan sikap kritis oleh masyarakat terhadap media massa untuk mengembangkan penilaian tentang konten media, diperlukan adanya kesadaran dari masyarakat mengenai dampak dari media pada individu dan masyarakat. Sehingga kelak diharapkan terbentuknya masyarakat yang kritis dan melek media, tidak hanya mencerna secara langsung seluruh konten media.
Sumber : https://muhiswarramadhan.wordpress.com
0 komentar:
Posting Komentar