Sabtu, 15 Agustus 2015

Gadget & Media Sosial Sebagai Alat Hipnotis

Saya, Mereka Dan Media Sosial yaaahh bisa dikatakanlah "Gadget dan Media Sosial Sebagai Alat Hipnotis" ,kenapa? karena tanpa gadget kita akan merapa hampa dan terpaksa menggunakannya karena perubahan jaman dan teknologi makin mempengaruhi otak membuat kita tergerak dan terhipnotis, ya bukan hanya saya saja sebagian orang juga kok.. contohnya Kalau berjalan-jalan di Makassar, Jakarta atau kota-kota besar lainnya (yah, mau di mall, gimana lagi) saat duduk menunggu pesanan, orang-orang selalu sibuk dengan handphone (gadget) mereka. Entah bermain Love Live! SIF atau Brave Frontier, atau benar-benar saling bertukar kicauan dengan sahabat berbeda pulau. Atau cuma konfirmasi order di OL shop.

Yaahh,Mungkinkah semua gadget ini membuat kita terhipnotis? Mungkinkah semua aplikasi chatting dan media sosial  membuat kita terhipnotis?? :D

Kadang saya juga mikir kalau melihat orang yang sibuk dengan gadgetnya,merasa sedih dan yaahh jaman sekarang gini yaa? anak kecil aja gadgetnya sdh wow banget ,dan orang kalangan kabut saat HP mereka kehabisan baterai dan lupa bawa power bank, saya malah merasa sedih untuk mereka. Mereka hanyalah korban hipnotis sebuah teknologi, orang-orang yang terpaksa bergantung pada teknologi yang katanya "mendekatkan yang jauh dan menjauh yang dekat" ,hmmmm... padahal itu membuatnya menjauh dari orang sekitarnya..

Tidak dapat dipungkiri kalau HP dan media sosial memang berguna untuk menghubungkan kita dengan orang-orang yang penting dalam kehidupan kita. Saya juga nggak bisa berfungsi tanpa Skype dan media sosial, karena kebanyakan ide informasi saya didapat dari media sosial tersebut. Dan inilah jaman, tidak bisa dipungkiri bahwa Gadget dan Media Sosial Sebagai Alat Hipnotis ( Melupakan segala hal saat memengang gadget) 







Kenyataan pahit dihadapi pergaulan jaman sekarang. kangen waktu-waktu dimana orang-orang bisa ngobrol santai sampai malam sambil ketawa-ketawa tanpa ada jeda. Jaman sekarang 5-10 menit tiba-tiba hening "cek hp masing-masing"






Budaya Politik Konservatif VS Budaya Internet


Apa itu Budaya Politik Konservatif ??

Secara umum, politik konservatif mendukung kelanjutan dari nilai-nilai dan lembaga-lembaga “tradisional”. Politik konservatif bisa dibagi menjadi beberapa kategori lain yang lebih spesifik, seperti konservatisme sosial, fiskal, dan agama. 
Konservatisme adalah sebuah filsafat politik yang mendukung nilai-nilai tradisional. Istilah ini berasal dari bahasa latin, conservāremelestarikan; "menjaga, memelihara, mengamalkan". Karena berbagai budaya memiliki nilai-nilai yang mapan dan berbeda-beda, kaum konservatif di berbagai kebudayaan mempunyai tujuan yang berbeda-beda pula. Sebagian pihak konservatif berusaha melestarikan status quo sementara yang lainnya berusaha kembali kepada nilai-nilai dari zaman yang lampau, the status quo ante
 Konservatif merupakan sikap dan peilaku politik yang tidak menginginkan adanya perubahan berarti (mendasar) dalam sebuah sistem sikap ini biasanya dianut oleh mereka yang tengah menikmati posisi istimewa atau kekuasaan dalam sebuah struktur atau paling tidak merasa sangat diuntungkan oleh system yang ada. Mereka umumnya adalah kaum pemodal, pengusaha, penjilat dan kaki tangannya sebuah rezim.
Pendukung politik konservaif umumnya puas dengan status quo dalam pemerintahan. Lebih jauh lagi, sebagian diantaranya bahkan mungkin mendukung kebijakan regresif. Konservatisme menolak prinsip-prinsip liberalisme serta menentang ide progresif tentang masyarakat yang selalu berubah. Meskipun sebagian kaum konservatif mungkin mendukung ide revolusioner seperti kesetaraan gender, mereka enggan menggunakan langkah-langkah radikal untuk mewujudkan kesetaraan tersebut.
Edmund Burke (1729 – 1797) sering disebut sebagai bapak politik konservatif modern. Burke merupakan seorang anggota Partai Whig di House of Commons (Parlemen) Inggris. Dia antara lain berbicara tentang revolusi di Amerika Serikat dan Perancis, dan mendukung revolusi Amerika karena menunjukkan bahwa pemerintah Inggris tidak mengakui hak-hak yang sudah tercantum dalam undang-undang.
Politik konservatif cenderung pro status quo. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, konservatif mendukung masyarakat kapitalis dan hak-hak yang digariskan dalam konstitusi. Di Inggris, konservatif menyetujui sistem parlementer yang saat ini digunakan. Kaum konservatif Israel pada umumnya akan tetap berpegang pada kebijakan dan mengakui garis perbatasan sekarang dalam hubungannya dengan Palestina. Sebagian kaum konservatif bahkan memiliki pandangan yang regresif, bahwa masyarakat dan pemerintah seharusnya mengadopsi kembali praktik yang pernah diterapkan pada masa lalu. Konservatif sayap kanan cenderung curiga terhadap ideologi politik sayap kiri. Meskipun kedua kelompok sama-sama mendukung kebebasan, mereka memiliki pendekatan yang berbeda dalam hal perumusan kebijakan negara. Politk progresif melihat pemerintahan dan kondisi manusia dari sudut pandang rasionalistik, sementara konservatif biasanya mengacu pada praktik yang telah teruji untuk mendukung cara pandang mereka.
Secara internasional, politik konservatif tidaklah monolitik. Misalnya, sebagian ahli berpendapat bahwa politik konservatif di Eropa lebih progresif daripada di Amerika Serikat. Kaum konservatif mungkin juga tidak setuju dengan rekan konservatif mereka di negara lain. Misalnya, konservatif di Perancis mungkin tidak setuju dengan cara-cara kaum konservatif di Iran
Budaya Internet di Indonesia ?
Yahh, Internet itu merupakan media komunikasi yang populer di Indonesia sejak akhir tahun1990. Perkembangan jaringan internet di Indonesia dimulai pertengahan era 1990, namun sejarah perkembangannya dapat diikuti sejak era 1970-an. Pada awal perkembangannya, internet dimulai dari kegiatan-kegiatan yang bersifat non-komersial, yaitu seperti kegiatan-kegiatan meliputi hobby dan dalam perkembangan selanjutnya kebanyakan diprakarsai oleh kelompok akademis/mahasiswa dan ilmuwan yang sebahagian terlibat dengan berbasis hobby tersebut, melalui upaya membangun infrastruktur telekomunikasi internet.

Dalam sejarahnya di Indonesia saat itu jaringan internet di Indonesia dikenal dengan pegayuban network, dimana semangat kerjasama, kekeluargaan, dan gotong royong sangat hangat dan terasa di antara para pelakunya. Agak berbeda dengan suasana Internet Indonesia pada perkembangan yang terasa lebih komersial dan individual di sebagian aktifitasnya terutama yang melibatkan perdagangan Internet. Peranan Pemerintah dalam perkembangan jaringan internet di Indonesia memang tidak banyak, namun juga tidak dapat dikesampingkan, walaupun peranan mereka tidak terlalu signifikan. daripada itu Indonesia sudah lama tenggelam dalam keterpurukan baca-tulis yang sebenar-benarnya. Ini mengakibatkan orang Indonesia rata-rata belum siap menjadi pelaku budaya internet yang marak ini. Belum  pulih dari krisis yang berkepanjangan, orang Indonesia harus dihadapkan kepada sejumlah beban budaya internet.

Internet sudah merambah ke sana ke mari. Ia pun sudah masuk dalam pelosok-pelosok. dan ditambah banyaknya warnet-warnet (warung internet) dalam perbatasan desa-kota, serta sekolah dan lebih lagi dekat-dekat perguruan tinggi. Namun bagus dari internet ini untuk menambah wawasan serta informasi dari sekitar dunia, namun buruknya untuk sekarang-sekarang biasanya menjadi favorit yaitu game-game online yang mulai memperdayai anak sekolah, mahasiswa serta anak bocah pun sudah ada yang menggila akibat dari game online tersebut yang mengakibatkan lalai dari segalanya. mereka semua tenggelam dalam lautan maya yang tanpa batas.

Dengan adanya internet mungkin memang membuat kita menjadi semakin baik dalm informasi, cerdas, tapi disisi lain semakin tidak bisa membedakkan antara kenyataan dan khayalan diri sendiri. situs jejaring sosial bukan menjadi media komunikasi malah menjadi tempat hiburan yang mempermainkan kata-kata yang menghamburkan tanpa makna. Game dan chatting hanyalah membunuh waktu-waktu yang semestinya produktif. Jadilah kita menggejalakan sakit jiwa. memecahkan masalah nyata dalam hidup memang tidak mudah karena terlalu lama bergelut informasi yang melimpah tak beraturan. Budaya prasangka dengan mudah menghampiri yang tidak bisa membedakkan antara kenyataan dengan khayalan.
Itulah budaya internet yang ada dari bangsa kita, yang merupakan sudah menjadi kebiasaan untuk bermalas-malas. Oleh sebab itu rata-rata dari kita belum siap untuk menjadi pelaku budaya internet yang baik. Dan perlu kita sadari bahwa internet secara tidak langsung telah memperbudak diri sehingga menjadi pencandu berat. Untuk itu kita harus pintar-pintar dalam memilih informasi dan dan sama-sama mencari solusi untuk merubah budaya internet dari Indonesia. Dan Kehadiran teknologi internet dan didukung dengan sarana-prasarana di Indonesia sudah ke arah yang lebih baik. Terbukti dengan meningkatnya penjualan smartphone yang dilengkapi koneksi internet, penambahan akun sosial media, dan bertambahnya pula pembelanjaan masyarakat terhadap pengeluaran biaya internet. Penggunaan internet di Indonesia yang seharusnya menjadi sesuatu yang positif dan produktif, namun kenyataannya belum dapat diterjemahkan menuju hal tersebut. Sangat disayangkan hal tersebut karena seperti berkembangnya budaya yang sia-sia dan pemborosan, padahal masyarakat mengeluarkan biaya tidak murah untuk menggunakan teknologi internet tersebut.

Hiperrealitas Media Massa dalam Kapitalisme Global

Prolog
Di zaman yang serba modern ini, hampir tidak ada yang tidak mengenal televisi, berikut dengan tayangan-tayangan yang disajikan. Kotak ajaib itu membius manusia dimanapun berada. Kotak ajaib itu pun sanggup mengubah pola relasi yang terjadi antara anggota kelompok masyarakat, bahkan dalam rumah tangga sekalipun. Pernahkah kita melihat seorang ibu rumah tangga menangis, bahkan tertawa terbahak-bahak sendiri di depan layar televisi? Atau apa yang sedang terjadi ketika semua anggota keluarga duduk sopan denga mata menatap lurus ke arah televisi di ruang keluarga tanpa berkomunikasi satu sama lain? fenomena apakah ini? mungkin bukanlah hal yang baru, bahkan kita semua pernah mengalami hal yang demikian. Seberapa kuat sihir yang dihasilkan oleh kotak ajaib bernama televisi hingga mampu mengubah pola relasi dalam lingkungan masyarakat, hingga dalam konteks yang paling sederhana sekalipun, yaitu dalam lingkungan keluarga. Jawaban dari pertanyaan tersebut akan berkaitan dengan dua entitas yaitu, media massa dan globalisasi.
Seperti yang secara umum telah diketahui, dunia pada saat ini telah memasuki era komunikasi dan transformasi global, meminjam istilah dari Marshall McLuhan, era komunikasi pada saat ini telah membuat dunia menjadi semacam “Desa Global” (Global Village), yang dimana sudah tidak adalagi batasan-batasan yang memisahkan antara orang yang berada di negara satu untuk berkomunikasi dengan orang yang berada di negara lain.
Televisi memang merupakan media massa yang paling banyak digemari dan paling populer, alasannya pun beragam jika orang ditanya mengapa anda menonton televisi, ada yang menjawab “karena acaranya mengasyikkan”,”sebagai sarana refreshing”, “menghabiskan waktu”, “menambah pengetahuan”, dan beberapa alasan lainnya. Yang jelas semua media massa, khususnya televisi memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat. Kehadiran televisi dengan berbagai macam sihir yang diberikan kepada audience ditakutkan, audiens akan kehilangan daya kritis. Apa yang membuat media massa mampu membuat daya kritis masyarakat semakin hilang sehingga individu dengan mudahnya mampu dikuasai oleh media massa? Satu jawaban yang pasti adalah, kebutuhan akan informasi tiap individu. Kebuituhan akan informasi merupakan kebutuhan yang mendasar bagi setiap individu, manusia tidak akan bisa hidup dalam keadaan tanpa informasi, karena manusia memiliki rasa ingin tahu yang merupakan ciri mendasar manusia. Media massa, khususnya televisi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia di masa sekarang, bahkan media telah mampu mengubah pola hubungan antara masyarakat, jika dahulu pola penyebaran informasi masih membutuhkan figur perantara dalam hal ini masih membutuhkan para figur-figur di dalam masyarakat atau para pemimpin, kini peran tersebut telah diambil alih oleh televisi, hampir semua orang dapat mengetahui informasi dunia luar hanya dengan menonton televisi.
Hiperrealitas Dalam Media Massa
Hiperrealitas menurut Jean Baudrillard, adalah suatu realitas buatan yang meniru satu realitas tertentu, tapi karena proses pemanipulasian, maka realitas buatan itu terputus hubungannya dengan realitas aslinya. Hiperrealitas terjadi akibat peran media massa, dalam hal ini televisi yang sangat begitu besar. Media massa dewasa ini tidak lagi menjadi penyebar realitas, tetapi sudah berubah menjadi penyebar hiperrealitas. Media massa sudah mengabaikan salah satu tujuan pokoknya yaitu to inform, karena apa yang di tayangkan oleh televisi merupakan realitas semu. Sebagai penonton kita tidak mendapatkan atau melihat apa-apa dan apa yang disajikan oleh suatu layar televisi, yang kita tonton hanyalah sebuah kehampaan. Apa yang ditayangkan oleh media massa saat ini hanya sebuah citra-citraan yang secara silih berganti dengan tenggang waktu yang sangat singkat. Dengan metode seperti ini media massa mampu menayangkan banyak sekali gambar dengan keanekaragamannya, yang dipentingkan dari metode seperti ini kiranya hanyalah efek kecepatan pergantian tayangan itu sendiri, bukan substansi atau isi tayangannya.
Dalam dunia hiperrealitas, massa (red: masyarakat) lebih mempercayai realitas buatan daripada realitas yang aslinya. Massa terpesona dengan perputaran penampakan yang muncul dan kembali hilang. Massa hidup dalam persimpangan yang tidak menentu arahnya, antara yang riil dan yang fantasi belaka. Televisi membawa penontonnya seakan-akan berada langsung di dalam struktur atau mengalami langsung realitas asli yang representasinya ada dalam tayangan televisi. Akibatnya realitas yang ditayangkan oleh televisi seakan-akan menjadi hiperreal.
Apa yang menjadi kekhawatiran dengan adanya hiperrealitas, adalah media massa (televisi) kini membawa realitas asli menuju “kematiannya”. Hal ini dikarenakan apa yang ditampilkan oleh televisi, dibuat seideal mungkin bahkan boleh dikatakan lebih riil daripada realitas yang asli. Realitas asli telah mati dalam hiperrealitas yang ditayangkan ke hadapan penonton setiap saat.
Bahaya dari hiperrealitas dalam media massa adalah hancurnya sosialitas dari setiap warga. Masyarakat kini terpisah satu sama lain, sibuk mengunyah hiperrealitas yang ditayangkan televisi tanpa peduli sesama. Realitas sosial, dalam pengertian masyarakat menjadi hilang. Sosialitas setiap individu menjadi hancur, individu masuk dalam budaya massa.
Hiperrealitas dan Hubungannya dengan Kapitalisme Global
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya jika media massa dan globalisasi merupakan dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Globalisasi secara sederhana bisa diartikan sebagai akumulasi antara internasionalisasi (penyebaran paham-paham global ke seluruh dunia atau masuknya dimensi global dalam setiap masalah). Dalam globalisasi semua menjadi transparan sehingga pola hubungan manusia menjadi semakin luas.
Kapitalisme global sebagai bagian integral dari globalisasi bisa dengan cepat mencapai puncak atau titik finalnya karena di dalam diri kapitalisme ada daya gerak atau pembangkit yang selalu bekerja menghasilkan perubahan yang konstan dengan tujuan yang jelas. George Soros, seorang pelaku utama dari kapitalisme global bahkan menyorot secara tajam ketimpangan dan bahaya yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme global yang ternyata tidak sejalan dengan pembangunan masyarakat global. Salah satu teori klasik yang dapat menjelaskan ketimpangan ini adalah teori dependensia atau ketergantungan yang pertama kali dicetuskan oleh lenin dalam pamfletnya, Imperialism. The Highest Stage of Capitalism (1914). Lenin menyatakan bahwa kapitalisme eropa dapat berkembang karena ekspor eksploitasi yang dilakukannya di negara-negara jajahan dan penyerapan “modal surplus” eropa oleh para pekerja pribumi dan bahan-bahan mentah pribumi. Lenin kemudian menyatakan hal ini menghasilkan perang antara negara-negara utara yang maju dan “proletariat global” di negara-negara berkembang. Ketimpangan utara-selatan ini mendapat penjelasan yang paling masuk akal dari teori dependensia yang kemudian dikemukanan oleh ekonom argentian, Raul presbich, yang menyatakan bahwa kemiskinan di Dunia ketiga lebih disebabkan karena pengaruh tatanan ekonomi kapitalis global, yang membutuhkan jasa negara-negara berkembang agar terus-menerus berada dalam kondisi “berkembang dan bergantung”. Dengan kata lain ia menyatakan bahwa kemakmuran di utara secara langsung disebabkan karena kemiskinan di selatan.
Media massa berkembang sangat pesat di era globalisasi saat ini. Media massa tak bisa dilepaskan dari perkembangan kapitalisme global, yang dimana media massa berkembang sejalan dengan kapitalisme global. Keduanya mempunyai hubungan unik, yakni saling memengaruhi dan saling mendukung. Media massa tidak akan menjadi sepeti sekarang kalau tidak didukung dengan ekspansi modal tidak akan menjadi sepeti sekarang kalau tidak didukung dengan ekspansi modal yang kuat, dan sebaliknya, kapitalisme tidak akan bisa menjadi global tanpa dukungan penyebaran ide-ide globalisasi ke seluruh penjuru dunia melalui media massa. Dalam hal ini, yang paling berpengaruh dari media massa adalah iklan yang ditayangkan, tidak bisa dipungkiri jika iklan merupakan sumber pemasukan terbesar dari media massa, dan ini pula yang menjadi langkah awal dari kapitalisme untuk menggunakan media massa dalam penyebaran paham kapitalis. Iklan dalam media massa telah sangat membantu mengarahkan gaya hidup masyarakat agar sesuai dengan kepentingan pasar kapitalisme, yakni hidup konsumerisme
Di dalam iklan inilah proses hiperrealitas juga terjadi, yang dimana apa yang diiklankan oleh televisi, merupakan realitas buatan yang bisa mengalahkan realitas yang asli, hal ini dilakukan untuk menarik minat audiens untuk mengonsumsi apa yang diiklankan oleh media massa. Produsen memiliki otoritas penuh untuk mendesain produk iklan yang diminati masyarakat, bahkan iklan yang dibuat oleh produsen merupakan hal yang mustahil terjadi di dunia nyata, karena apa yang menjadi orientasi dari produsen adalah membuat masyarakat menjadi masyarakat yang konsumtif. Masyarakat seolah dipaksa untuk mengonsumsi apa yang diiklankan oleh produsen dengan menggunakan teknik advertising yang didalamnya terkandung nilai-nilai hiperrealitas. Media massa memproduksi dan menyebarkan dunia konsumerisme yang penuh dengan eksotisme, keindahan dan kehidupan yang harmonis dan sejahtera, dengan kata lain media massa mendramatisasi kenyataan. Segala realitas, oleh media massa dibuat menjadi realitas yang indah. Realitas yang indah ini pada gilirannya akan menciptakan keterpesonaan tersendiri pada manusia yang pada akhirnya akan menghilangkan daya kritis dan inovasi pada manusia.
Epilog
Media massa memang tidak bisa dilepaskan dari cengkraman kapitalisme, karena kedua hal ini merupakan dua mata rantai yang saling berhubungan satu sama lain. Media massa tidak akan bisa hidup tanpa adanya dukungan dari sistem kapitalisme, begitupun sebaliknya kapitalisme tidak akan bisa menyebarkan ideologi maupun paham kapitalis tanpa adanya dukungan dari media massa dalam menyebarkan informasi ke seluruh pelosok dunia. Lantas yang menjadi pertanyaan apakah kita harus menjadi orang yang anti media massa untuk terhindar dari paham kapitalis? Media massa sudah menjadi kebutuhan primer bagi tiap-tiap individudi era informasi ini, karena kebutuhan akan informasi merupakan kebutuhan paling mendasar bagi manusia. Olehnya itu diperlukan sikap kritis oleh masyarakat terhadap media massa untuk mengembangkan penilaian tentang konten media, diperlukan adanya kesadaran dari masyarakat mengenai dampak dari media pada individu dan masyarakat. Sehingga kelak diharapkan terbentuknya masyarakat yang kritis dan melek media, tidak hanya mencerna secara langsung seluruh konten media.




Sumber : https://muhiswarramadhan.wordpress.com

Peran Pemerintah Dalam Menetapkan Regulasi Pemerintah dan ITE

Pesatnya kemajuan teknologi telekomunikasi, media, dan informatika serta meluasnya perkembangan infrastruktur informasi global telah merubah pola dan cara kegiatan bisnis yang dilaksanakan di industri, perdagangan, dan pemerintah. Di dalam kerangka Kebijakan Pengembangan dan Pendayagunaan Telematika sebagaimana terlampir dalam Inpres Nomor 6 Tahun 2001 tentang Pengembangan dan Pendayagunaan Telematika, terdapat beberapa point arah pengembangan dan pendayaguanaan telematika di Indonesia yaitu :

a. Telematika untuk mempersatukan bangsa dan memberdayakan rakyat;
b. Telematika dalam masyarakatuntuk masyarakat;
c. Infrastruktur informasinasional;
d. Sektor swasta dan iklimusaha;
e. Peningkatan kapasitas danteknologi;
f. Goverment on-line;
g.Tim koodinasi telematika indonesia (TKTI) Gambaran mengenai arah kebijakan hukum telematika  juga direfleksikan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Renacana          Pembangunan Jangka panjang Nasional Tahun 2005  –  Adapun arah kebijakan yang terkait dengan    komunikasi dan informasi dengan fokus meningkatkan kerjasama pemerintah dan swasta sebagai  berikut :
a. Peningkatan peran/keterlibatan badan usaha termasuk UKM dan koperasi dalam penyelenggaraan komunikasidan informatika. Dilakukan dengan strategi sebagai berikut :

  1. Pembukaan peluang usaha bagi badan usaha kompetitif, tidak diskriminatif, dan transparan dalam penyediaan sarana dan prasaran dan layanan komunikasi dan informatika termasuk di wilayah non komersial
  2. Penyederhanaan perizinan,mantara lain, melaluipenerapan unified accesslicensing;
  3. Pengembangan skema kerjasama antara pemerintah dan swasta dalam penyelenggaraan komunikasi dan informatika selain skema perizinan (licensing) dengan memperhatikan pengelolaan risiko anatar pemerintah dan badan usaha berdasarkan prinsip pengalokasian risiko kepada pihak yang paling mampu mengedalikan risiko
  4. Pemberian insentif/stimulusbagi penyelenggara untukpembangunan di wilayahnonkomersial.
b. Peningkatan kualitas penyelenggaraan Kebijakan ini ditujukan untuk menciptakan iklim investasi dan berusaha acara kondusif sehinbgga memberikan ruang bagi penyelenggara untuk berkembang sekaligus memastikan tercapai nyasasaran pembangunan nasional. Strategi yang diambil adalah :

  1. Penyusunan perangkat peraturan yang jelas, konsisten, tidak diskriminatif, dan berkepanjangan ke depan serta rencana transisi/pentahapan (apabila terdapat perubahan peraturan) untuk menjamin perubahan yang halus
  2. Penciptaan kompetisi yang sehat dan setara dengan tetap menjaga profitabilitasindustri dan memperhatikan penguasaan / kepemilikan terhadap sumber daya
  3. Reformasi penarifan layanan berbasis jarak dan waktu menjadi volume dan kualitas
  4. Pengawasan atas penyelenggaraan komunikasi dan informatika termasuk pengawasan terhadap pemnuhan komitmen pembangunan yang melekat pada izin penyelenggaraan operator, pengawasan terhadap kualitas layanan,serta pengawasan terhada ppemanfaatan danpenggunaan sumber dayaterbatas, seperti spektrumfrekuensi radio.
 Jika dipetakan, konstruksipengaturan terkait isu konvergensitelematika saat ini di Indonesiaterdiri dari 3 layers utamaperundang–undangan yaitu :

  • Undang–Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (UU Telekomunikasi);
  • Undang–Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang penyiaran (UU Penyiaran);
  • Undang–Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasidan Transaksi Elektronik (UU ITE).


Dalam proyeksi pengaturan tentang konvergensi telematikan, bahwa pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dikuasai oleh Negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. Pembinaan teknologi informasi dan komunikasi diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraan teknologi informasi dan komunikasi yang meliputi penetapan kebijakan,pengaturan, pengawasan dan pengendalian sesuai dengan tujuan pembangunan teknologi informasi dan komunikasi nasional.

Menteri menjalankan fungsi penetapan kebijakan dan menetapkan arah peta jalan pembangunan teknologi informasi dan komunikasi ke depan. Menteri melimpahkan fungsi pengaturan,pengawasan dan pengendalian untuk menumbuh kembangkan industri kepada suatu Badan Regulasi. Dalam melaksanakan fungsi pembinaan dan menumbuh kembangkan industri teknologi informasi dan komunikasi, Menteri dan Badan Regulasi memperhatikan pemikiran dan pandangan yangberkembang dalam masyarakat serta perkembangan global.

Dalam rangka pelaksanaan pembinaan teknologi informasi dan komunikasi, Pemerintah melibatkan peran serta masyarakat. Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud berupa penyampaian pemikiran dan pandangan yang berkembang dalam masyarakat mengenai arah pengembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam rangka penetapan kebijakan, pengaturan,pengendalian dan pengawasan dibidang teknologi informasi dan komunikasi. Dalam rangka menerapkan pengaturan yang lebih sesuai dengan dinamika perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, fungsi perumusan pengaturan dapat dilaksanakan pula secara swaregulasi. Swaregulasi dilakukan oleh lembaga yang keanggotaannya dapat terdiri dari para pelaku industri maupun pakar sesuai bidang yang akan diaturnya. Lembaga Swaregulasi Industri dapat mengajukan rumusan peraturan untuk ditetapkan oleh Badan Regulasi. Ketentuan jenis- jenis pengaturan yang dapat dirumuskan oleh Lembaga Swaregulasi Industri ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. Selanjutnya struktur perizinan yang ditetapkan di dalam Undang-Undang harus mencerminkan struktur ekonomi atau struktur bisnis penyelenggaraan teknologi informasi dan komunikasi dalam konteks menuju konvergensi. Konvergensi layanan yang menuntut konvergensi perangkat terminal dan konvergensi jaringan, meski dalam lingkungan yang multi-operator. Menyadari pentingnya TIK sebagai bidang yang berperan besar dalam pembangunan nasional, Kementerian Negara Riset dan Teknologi memberikan arahan sektor-sektor yang diprioritaskan untuk dikembangkan melalui kegiatan riset, antara lain:  infrastruktur informasi, perangkat lunak, kandungan informasi (information content), pengembangan SDM dan kelembagaan, pengembangan regulasi dan standarisasi (Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 2006: 5).

  1. Infrastruktur Informasi
Infrastruktur informasi terdiri atas beberapa aspek yang seluruhnya harus dibangun secara paralel dan saling menunjang. Aspek pertama adalah jaringan fisik yang berfungsi sebagai jalan raya informasi baik pada tingkat jaringan tulang-punggung maupun tingkat akses pelanggan. Jaringan tulang punggung harus mampu menghubungkan seluruh daerah Indonesia sampai wilayah pemerintahan terkecil. Pada tingkat akses pelanggan harus memungkinkan tersedianya akses yang murah dan memadai bagi masyarakat luas.

Aspek kedua menekankan pada kemanfaatan sebesar-besarnya pengelolaan sumber informasi bagi seluruh komponen masyarakat. Kondisi ini dapat dicapai melalui diwujudkannya interoperabilitas sumber daya informasi yang tersebar luas sehingga dapat dimanfaatkan secara efisien dan efektif oleh seluruh pemangku kepentingan.

Aspek terakhir adalah pengembangan perangkat keras, baik di sisi jaringan maupun di sisi terminal. Pengembangan ini harus dirancang berdasarkan kebutuhan dan kondisi jaringan yang ada di Indonesia, dengan mengadopsi sistem terbuka dan menanamkan tingkat kecerdasan tertentu untuk memudahkan integrasi sistem dan pengembangannya di masa depan.

2. Perangkat Lunak

Pengembangan perangkat lunak diarahkan pada realisasi sistem aplikasi yang mampu menunjang proses transaksi ekonomi yang cepat dan aman, serta pengambilan keputusan yang benar dan cepat. Harga yang terjangkau dan daya saing pada tingkat internasional merupakan salah satu kriteria yang dipersyaratkan, khususnya mendukung kebijakan substitusi impor. Perangkat lunak sistem operasi dengan kehandalan tinggi dan kebutuhan sumber daya memori maupun prosesor yang minimal serta fleksibel terhadap perangkat keras maupun program aplikasi yang baru, merupakan prioritas yang harus dikembangkan. Program aplikasi juga perlu dikembangkan, terutama yang terkait dengan sektor perekonomian, industri, pendidikan, maupun pemerintahan.
Dalam mempercepat pengembangan dan pendayagunaan perangkat lunak, perlu pula ditinjau implementasi konsep open source. Penerapan konsep open source ini diharapkan mampu menggalakkan industri perangkat lunak dengan partisipasi seluruh lapisan masyarakat tanpa melakukan pelanggaran hak cipta.

3.   Kandungan Informasi

Kegiatan pengembangan kandungan informasi (information content) bertujuan  melakukan penataan, penyimpanan, dan pengolahan informasi yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi proses pembangunan, pengorganisasian,  pencarian, dan pendistribusian informasi.
Kegiatan riset dan pengembangan kandungan informasi diawali dengan pemetaan berbagai potensi dan informasi nasional beserta pemodelan proses  information retrieval.  Dengan demikian implementasi information repository dan information sharing merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan teknologi  informasi dan komunikasi. Pemanfaatan maksimal kandungan informasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan potensi lokal, akumulasi kekayaan seni dan budaya Indonesia yang beraneka  ragam dapat pula dieksploitasi sebesar-besarnya untuk menghasilkan produk-produk seni budaya yang berbasis  multimedia.

      4.      Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)
Dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) diperlukan upaya peningkatan kemandirian dan keunggulan, yang salah satunya adalah dengan mengembangkan sistem pendidikan dan pelatihan untuk membentuk keahlian dan keterampilan masyarakat dan peneliti dalam bidang teknologi yang strategis serta mengantisipasi timbulnya kesenjangan keahlian sebagai akibat kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi.

       5.      Pengembangan Regulasi dan Standarisasi
Program kajian regulasi meliputi penyusunan Undang-Undang dan penyempurnaan berbagai kebijakan terkait bidang teknologi informasi, komunikasi dan broadcasting. Salah satunya adalah penyempurnaan Cetak Biru Telekomunikasi dan UU Telekomunikasi No. 36/1999 yang sudah Telekomunikasi No. 36/1999 yang sudah mulai ketinggalan dengan perkembangan teknologi dan tuntutan masyarakat. Penyelesaian Rancangan UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan berbagai UU lain yang dapat mendorong  pertumbuhan aplikasi IT sangatlah diharapkan realisasinya pada tahun 2005-2025. Termasuk dalam kerangka regulasi ini adalah mempercepat terlaksananya proses kompetisi yang sebenar-benarnya dalam penyediaan jasa telekomunikasi sehingga dapat memberikan perbaikan kondisi layanan, kemudahan bagi pengguna jasa, serta harga yang ekonomis.















sumber: 
http://www.academia.edu/13886946/Regulasi_Konvergensi_Telematika
http://ebbyboooy.blogspot.com/2013/10/tugas-pengantar-telematika.html

Kamis, 13 Agustus 2015

Tidak Nyata

Berawal dari layanan pesan singkat atau sering kita dengar SMS (short message service) ini merupkan sebuah terobosan dimana kita lebih mudah menghubungi seseorang tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Luar biasa bukan ? tanpa harus berjalan kaki kita juga sudah mampu memesan makanan layaknya seorang raja menunggu hidangan sampai di rumah. Zaman pun berkembang hingga kita mengenal dunia internet dan pesan singkat pun mulai di tinggalkan. pesan singkat yang semulanya menjadi trend bagi pengguna ponsel sekarang hanya menjadi cadangan ketika pengguna sudah tidak memiliki kuota internet. Bermula dari layanan chatting hingga kemudian layanan itu sudah menjadi ketinggalan jaman di banding media sosial yang memiliki banyak fitur seperti friendser, facebook, twitter, dll.

awal kemunulan facebook yang booming di indonesia menjadi trend anak muda untuk mempublish kegiatan sehari harinya, keluh kesahnya hingga bermesra mesraan dengan orang yang baru di kenalnya lewat facebook. ini bukan sekedar kegiatan selingan yang dilakukan ketika memiliki waktu luang lagi tetapi menjadi kegiatan rutin yang harus di cek setiap saat dan menjadi seperti kebutuhan pokok kita ketika memiliki koneksi internet, hingga saat ini pun facebook masih tetap berada di atas awan sebagai pelopor media sosial yang sudah menjamur di dunia dengan motto "facebook membantu anda terhubung dam dengan berbagai orang-orang dalam kehidupan anda". 

layaknya di dunia nyata media sosial mampu menghubungkan kita dengan orang yang mungkin di dunia nyata mustahil untuk kita jumpai. kita mampu memiliki banyak teman di media sosial dengan bermacam macam negara di belahan dunia manapun. bahkan ada orang yang seolah olah dia hidup di dunia maya yang orang tersebut tidak akan bisa hidup tanpa menggunakan media sosial dalam satu hari. media sosial ini juga mampu menghipnotis kita untuk terus menggunakannya dengan berbagai fitur menarik yang membuat kita terkagum kagum ketika melihat media sosial. 

Kebiasan manusia pun mulai berubah ketika media sosial merambat ke dunia ini yang awalnya ketika bangun tidur kita biasanya cuci muka sekarang kita harus memeriksa gadget apakah ada notif dari media sosial yang kita gunakan. betapa hebatnya media sosial saat ini hingga ada orang yang mampu mempublish kegiatan yang ia lakukan selama satu hari seolah olah orang lain harus tau apa yang ia lakukan setiap harinya. media sosial pun menjadi gengsi untuk kalangan remaja dimana semakin banyak followers (istilah bagi pengikut pengguna lain di media sosial) semakin menjadi jadi. bahkan ada orang yang rela posting (istilah mengunggah tautan berupa kata, foto atau video ke media sosial) foto syur agar orang dia bisa memiliki banyak pengikut. media sosial juga mampu mengubah pola pandang pengguna terhadap teman bahkan mengubah arti dari sebuah pertemanan. di media sosial kita akan memilik teman tanpa kita pernah melihat teman kita tersebut, cukup aneh tapi nyata !! hingga kita berfikit memiliki banyak teman di media sosial tanpa sadar kita lupa dengan teman di dunia nyata kita. keasyikan bermain dengan teman dunia maya dan mengakibatkan kita lupa dengan dunia nyata.

banyak kejadian aneh yang terjadi ketika media sosial benar benar seperti bagian dari kehidupan. manusia akan terus memperhatikan gadget di saat berjalan yang mengakibatkan terjadi kecelakaan. ada yang sibuk seharian dengan laptop dan game di media sosialnya hingga dia lupa bahwa tubuhnya 
 itu nyata dan harus di berikan asupan makanan. sudah benar benar hidupp di dunia dengan ketidak nyataan yang di berikan media sosial padahal tidak seperti itu tujuan di ciptakan media sosial. media sosial di ciptakan agar manusia lebih mudah berkomunikasi antar manusia lain, bukan untuk di gunakan sebagai bagian kehidupan yang harus di cek setiap saat ketika ada pemberitahuan baru. 

Informasi Itu Penting

Indonesia merupakan negara berkembang yang konsumtif dalam hal teknologi, baik berupa barang ataupun jasa. mulai dari gadget, laptop, komputer, bahkan internet. Di Indonesia internet merupakan suatu hal yang familiar dimana hampir semua menggunakan internet, bahkan masih banyak yang belum paham seperti apa internet itu. Yang mengherankan adalah Indonesia termasuk negara yang kecepatan internetnya lambat dan berbayar, hal ini di sebabkan oleh banyaknya user atau pengguna internet di Indonesia dan kondisi geografisnya yang menyebabkan demikian. Dan kemudian hal ini tidak menjadi halangan bagi warga negara Indoesia tercinta ini, bahkan orang masih berani bayar mahal untuk koneksi internet yang cepat.

Menurut hasil survey Indonesia menempati urutan 104 di Asian Pasifik untuk masalah kecepatan internet, kaget? ya di Indonesia kecepatan internetnya rata-rata 1.5 Mbps. Bagi kami ini hal yang wajar dengan kondisi geografis Indonesia, bahkan dengan kecepatan seperti itu warga indonesia sudah mampu streaming, download, upload, dan chatting. dengan kecepatan rata rata segitu tidak mempengaruhi jumlah user di indonesia, justru akan terus bertambah setiap tahunnya di karenakan internet itu sudah seperti sahabat bagi anak anak muda di Indonesia. "Game Online" ini kata yang mungkin sangat tidak asing untuk pengguna internet di Indonesia, mungkin ini juga yang membuat indonesia menjadi negara yang konsumtif dalam penggunaan jasa internet, dan dari game online ini juga tercipta lah hacker hacker cilik yang mahir tanpa harus menempu jalur pendidikan, hanya berawal dari bermain game, hingga menjadi peretas handal yang mampu meretas server game online yang ia mainkan.

Berawal dari sosial media rata rata warga negara indonesia mengenal internet. hanya karena ingin tidak terlihat ketinggalan jama dan akhirnya kecanduan menggunakan social media, mendapat teman baru, bermain game di media sosial, berbagi informasi baik yang penting maupun yang tidak penting. layaknya virus seperti itulah internet di Indonesia dengan cepat menyebar dengan kisaran belasan juta pengguna meningkat tiap tahunnya dari tahun 2010. Hal ini menjadi angin segar bagi penyedia layanan internet di Indonesia, pasar yang sangat menguntungkan bagi mereka bermodalkan infrastruktur baru yang mampu mengatasi kondisi geografis di indonesia.

Internet di Indonesia seperti obat yang memiliki efek samping jika di gunakan berlebihan mengakibatkan candu bagi pengguna. Internet pun dijadikan sebuah rutinitas untuk memperbarui informasi. di internet semua informasi tersedia hingga tak heran apapun bisa di cari di internet dengan mudahnya, bahkan dunia maya pun bisa dijadikan tempat untuk melakukan transaksi para pembunuh bayaran.
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

Copyright © Hi,Welcome to myblogger :) | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑